
Jakarta, The Silent Shore Indonesia
—
PT
MRT
Jakarta (Perseroda) menyiapkan Pedestrian Deck Dukuh Atas sebagai jalur penghubung antarmoda yang ramah bagi penyandang
disabilitas
sekaligus membuka peluang konektivitas langsung dengan sejumlah gedung di sekitarnya, seperti Two Sudirman dan Wisma BNI.
Fasilitas itu dirancang dilengkapi elevator, eskalator, ramp hingga jalur pemandu taktil guna mempermudah mobilitas seluruh pengguna.
Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta Agus Trihan mengatakan aspek aksesibilitas menjadi salah satu perhatian dalam perancangan pedestrian deck mengingat posisinya yang berada di atas permukaan jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Jadi memang kalau untuk yang berkebutuhan khusus memang ada elevator itu, lalu kita juga membuat ramp dan eskalator. Jadi memang harusnya sudah jauh lebih nyaman gitu, jadi istilahnya kita tinggi nih
deck
-nya ya, dan ini kita tahu lah ya jalan naik tangga lumayan,” kata Agus di Transport Hub MRT Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (30/7).
Menurut dia, seluruh akses masuk menuju pedestrian deck direncanakan menggunakan eskalator agar pengguna tidak perlu menaiki tangga secara manual. Sementara bagi pengguna kursi roda, stroller bayi, hingga ibu hamil, MRT juga menyiapkan elevator sebagai akses vertikal.
“Jadi memang sekarang
entrance
kita adalah
full
eskalator, jadi orang akan lebih nyaman untuk naik, dan untuk yang tadi kursi roda juga eskalator, dan di
deck
-nya juga akan ada taktil-taktil pemandu gitu ya untuk kaum-kaum difabel,” ujarnya.
[Gambas:Youtube]
Pedestrian Deck Dukuh Atas merupakan bagian dari pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas yang ditujukan untuk memperkuat konektivitas enam moda transportasi, yakni MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan TransJakarta.
Saat pencanangan proyek pada Juni lalu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut infrastruktur tersebut dirancang untuk mewujudkan
seamless mobility
sehingga masyarakat dapat berpindah moda dengan lebih nyaman tanpa harus terpapar panas maupun hujan.
Dibuat untuk Mengurai Kepadatan
Selain meningkatkan aksesibilitas, MRT Jakarta juga menilai keberadaan pedestrian deck dapat mengurangi kepadatan pejalan kaki yang selama ini terpusat di Terowongan Kendal.
TOD Planning Department Head PT MRT Jakarta Sagita Devi mengatakan saat ini Terowongan Kendal masih menjadi akses utama yang menghubungkan empat kuadran kawasan Dukuh Atas. Kehadiran pedestrian deck diharapkan memberi alternatif jalur sehingga arus pejalan kaki lebih tersebar.
“Kebetulan kalau antisipasi keramaian sebetulnya ini kita harapkan pedestrian deck ini juga sebetulnya untuk memecah keramaian di Terowongan Kendal. Karena kan saat ini satu-satunya akses untuk mengakses ke empat kuadran itu terpusat di Terowongan Kendal,” kata Sagita.
“Jadi sebetulnya ini salah satu cara kita mudah-mudahan ke depan juga bisa memecah keramaian di Terowongan Kendal supaya perpindahan orangnya juga bisa ada opsi lain untuk berpindah,” imbuhnya.
Untuk mengantisipasi penumpukan pejalan kaki di atas deck, Agus mengatakan desain proyek juga telah memperhitungkan pelebaran jalur pada sejumlah titik yang diperkirakan menjadi lokasi orang berhenti menikmati pemandangan.
“Jadi memang daerah khusus tadi saya sampaikan di utara dan selatan itu yang menghadap jalan itu akan ada pelebaran area. Jadi misalnya di jalur utama itu sekitar 4 sampai 5 meter, daerah situ itu sekitar 7 meter. Jadi orang yang melihat itu tidak akan menghentikan, jadi
bottleneck
untuk yang menggunakan jalan kaki yang mau pindah moda,” ujarnya.
Agus menambahkan struktur pedestrian deck juga dirancang mampu menahan beban hingga sekitar 500 kilogram (kg) per meter persegi. Pada area yang lebih lebar, MRT berencana menghadirkan ruang untuk menikmati kawasan sekitar sekaligus galeri sejarah yang memuat informasi mengenai Patung Jenderal Sudirman.
“Jadi kalau untuk Pedestrian Deck itu sendiri kita desain, per meter persegi segini lah ya, per meter persegi itu 500 kg. Jadi kalau kita rata-rata orang, jangan deh saya enggak berani ngomong, tapi ya 500 kg lah per meter persegi ya,” katanya.
“Daerah situ rencananya mungkin kita selain bisa melihat patung-patung mungkin kita juga mencoba membuat galeri sejarah. Jadi ketika nanti ada area yang lebih lebar itu, di situ ada sejarah siapa sih Pak Sudirman atau kira-kira kapan patung ini dibangun. Jadi ketika orang lihat patung juga dapat informasi tambahan gitu,” lanjut Agus.
Buka Peluang Terhubung ke Gedung Sekitar
Selain menghubungkan moda transportasi, MRT Jakarta juga membuka peluang agar pedestrian deck terkoneksi langsung dengan sejumlah gedung di kawasan Dukuh Atas.
Agus mengatakan komunikasi telah dilakukan dengan pengelola Two Sudirman. Menurutnya, pihak gedung menyambut positif rencana konektivitas tersebut meski bentuk kerja samanya masih akan dibahas lebih lanjut.
“Kalau yang untuk saya dengar yang di arah sini malah Two Sudirman, gedung baru yang Taspen itu waktu kita FGD dia datang dan mereka sangat menyambut baik lah dengan adanya rencana ini,” kata Agus.
[Gambas:Photo The Silent Shore]
Agus mengatakan MRT dan pengelola Two Sudirman masih akan mendiskusikan skema konektivitas yang memungkinkan. Ia menyebut terdapat keinginan untuk menghadirkan akses menuju kawasan pedestrian deck, meski tidak harus berupa sambungan langsung ke struktur deck dan bisa melalui koneksi lain yang lebih praktis.
Sementara itu, Sagita mengatakan koordinasi juga telah dilakukan dengan pemilik aset di sekitar kawasan, termasuk Landmark dan Wisma BNI. Menurut dia, desain pedestrian deck sejak awal memang disiapkan agar memungkinkan koneksi langsung jika masing-masing pemilik gedung telah siap merealisasikannya.
“Jadi sebetulnya kalau untuk Landmark dan area Wisma BNI sendiri memang kita juga sudah sempat koordinasi, jadi memang dari awal rencana desain untuk konektivitas Dukuh Atas ini juga pastinya berkoordinasi dengan semua pemilik aset gitu,” kata Sagita.
“Tapi memang dari masing-masing pemilik aset masih menunggu kesiapan dari perencanaan mereka itu sendiri gitu, cuma memang ke depan sudah kita buatkan dan sudah kita koordinasikan juga gitu dan memungkinkan apabila akan dikoneksikan langsung,” lanjutnya.
Ia menambahkan MRT Jakarta juga masih membuka komunikasi dengan Two Sudirman, Landmark, Wisma BNI, hingga TransJakarta untuk menentukan bentuk konektivitas yang paling sesuai.
“Nantinya juga kita juga sedang membuka komunikasi ya dengan Two Sudirman juga, mungkin nanti akan bisa harapannya ke depan dari Two Sudirman, dari area Wisma BNI ini juga bisa langsung terkoneksi gitu. Cuma memang apakah dalam bentuk konektivitas layang ataukah dalam bentuk penyediaan koridor di area pedestrian saja itu masih kita studi lebih lanjut gitu, baik itu dengan BNI, baik itu dengan Two Sudirman, Landmark, ataupun dengan Transjakarta ini,” ujar Sagita.
Di sisi lain, penyediaan kantong naik-turun penumpang ojek online juga masih dalam tahap kajian. Sagita mengatakan MRT mendorong pemilik lahan di sekitar kawasan untuk menyediakan ruang khusus tersebut agar tidak menambah kepadatan di sekitar pedestrian deck.
[Gambas:Video The Silent Shore]
MRT Dukuh Atas Akan Punya Pedestrian Deck Ramah Difabel Urai Kepadatan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: IHSG Diramal Lesu Jelang Akhir Pekan Ini
Baca lagi: IHSG Menguat ke 6.216 Jumat, 329 Saham Hijau Pagi Ini
Baca lagi: BMKG Deteksi 5.019 Titik Panas di Indonesia, Waspada Karhutla



